Bagaimana Islam memandang emansipasi wanita?
Jawab :
Kalau yang dimaksud emansipasi adalah wanita dan laki-laki sama, tentu saja ini menyalahi sunnatullah. Wanita dan laki-laki tidak mungkin bias sama, tetapi kalau dalam hal hak masuk surga, Allah tidak membedakan antara laki-laki dan wanita. Selama ia punya iman dan beramal sholeh, baik laki-laki maupun wanita sama haknya.
Bagaimanapun laki-laki adalah pemimpin bagi wanita, suami adalah pemimpin bagi istrinya. Nabi SAW pernah bersabda, wanita itu kurang akalnya dan kurang agamanya. Yang dimaksud kurang akalnya adalah kesaksian dua orang wanita sama dengan kesaksian seorang laki-laki. Sedangkan yang dimaksud kurang agamanya adalah, bukankah jika seorang laki-laki bias melaksanakan sholat sepanjang tahun sedangkan wanita tidak, demikian juga dalam hal puasa.
“Laki-laki (suami) adalah pemimpin bagi perempuan (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dari hartanya…” QS AN-NISA’ : 34
Kamis, 19 Maret 2009
Kamis, 12 Maret 2009
Tentang do’a berbuka puasa
Bermacam-macam do’a berbuka puasa bedasar hadits,
Dari Ibnu Abbas, ia berkata : adalah Rasullullah SAW apabila berbuka puasa beliau berdo’a, Allahumma laka shumnaa wa ‘alaarizqika afthornaa fataqobbal minna innaka antas sami’ul aliim ((Ya Allah, untuk-Mu kami berpuasa, dan atas rizqi-Mu kami berbuka, maka terimalah (ibadah) dari kami, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui ).” (HR. Daruquthni juz 2, hal. 185 no. 26 DHAIF karena dalam perawi Abdul Malik binHarun bin Antarah )
Dari Ibnu Abbas,ia berkata : Adalah Nabi SAW apabila berbka puasa beliau berdoa, “Laka shumtu wa ‘alaa rizqika afthartu fataqobbal minnii innaka antas samii’ul ‘aliim (untuk-Mu aku berpuasa, dan atas rizqi-Mu aku berbuka, maka terimalah ibadahku, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui ).” (HR. Thabrani dalam AL-Kabir juz 12, hal.113, no. 12720, dalam sanadnya ada perawi bernama Abdul Malik bin harun bin Antarah, ia DHAIF.)
Dari Muadz bin Zuhrah, bahwasanya telah sampai kepadanya bahwa Nabi SAW apabila berbuka puasa beliau berdoa, “Allohumma lakashumtu wa ‘alaa rizqika afthortu (Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa, dan dengan rizqi-MU aku berbuka puasa )” (HR. Abu Dawud juz 2, hal. 306, no.2358, hadits tersebut MURSAL karena Muadz bin Zuhrah tidak bertemu Nabi SAW.)
Ketiga hadits diatas tidakbisa dijadikan dasar dalam beramal sehubungan dengan kedudukan hadits-hadits tersebut.
Berikut hadits hasan yang bias kita jadikan dasar .
Dari Marwan, yakni bin Salim Al-Muqaffa’, ia berkata : Aku melihat Ibnu Umar RA memegang jenggotnya, lalu memotong yang lebih dari genggaman tangannya. Ia berkata : Adalah Rasulullah SAW apabia berbuka puasa beliau berdoa, “Dzahabadh-dhoma-u wabtallatil ‘uruuqu wa tsabatal ajru, insyaa-allah (haus telah hilang, urat-urat telah basah dan semoga pahala tetap didapat, insyaa-allooh). (HR. Abu Dawud juz 2, hal. 306, no. 2357, hadits HASAN )
Dari Ibnu Abbas, ia berkata : adalah Rasullullah SAW apabila berbuka puasa beliau berdo’a, Allahumma laka shumnaa wa ‘alaarizqika afthornaa fataqobbal minna innaka antas sami’ul aliim ((Ya Allah, untuk-Mu kami berpuasa, dan atas rizqi-Mu kami berbuka, maka terimalah (ibadah) dari kami, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui ).” (HR. Daruquthni juz 2, hal. 185 no. 26 DHAIF karena dalam perawi Abdul Malik binHarun bin Antarah )
Dari Ibnu Abbas,ia berkata : Adalah Nabi SAW apabila berbka puasa beliau berdoa, “Laka shumtu wa ‘alaa rizqika afthartu fataqobbal minnii innaka antas samii’ul ‘aliim (untuk-Mu aku berpuasa, dan atas rizqi-Mu aku berbuka, maka terimalah ibadahku, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui ).” (HR. Thabrani dalam AL-Kabir juz 12, hal.113, no. 12720, dalam sanadnya ada perawi bernama Abdul Malik bin harun bin Antarah, ia DHAIF.)
Dari Muadz bin Zuhrah, bahwasanya telah sampai kepadanya bahwa Nabi SAW apabila berbuka puasa beliau berdoa, “Allohumma lakashumtu wa ‘alaa rizqika afthortu (Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa, dan dengan rizqi-MU aku berbuka puasa )” (HR. Abu Dawud juz 2, hal. 306, no.2358, hadits tersebut MURSAL karena Muadz bin Zuhrah tidak bertemu Nabi SAW.)
Ketiga hadits diatas tidakbisa dijadikan dasar dalam beramal sehubungan dengan kedudukan hadits-hadits tersebut.
Berikut hadits hasan yang bias kita jadikan dasar .
Dari Marwan, yakni bin Salim Al-Muqaffa’, ia berkata : Aku melihat Ibnu Umar RA memegang jenggotnya, lalu memotong yang lebih dari genggaman tangannya. Ia berkata : Adalah Rasulullah SAW apabia berbuka puasa beliau berdoa, “Dzahabadh-dhoma-u wabtallatil ‘uruuqu wa tsabatal ajru, insyaa-allah (haus telah hilang, urat-urat telah basah dan semoga pahala tetap didapat, insyaa-allooh). (HR. Abu Dawud juz 2, hal. 306, no. 2357, hadits HASAN )
Yaasiin atau tahlil?
Saat menjenguk orang sakit, apabila orang yang sakit tersebut sudah dalam keadaan amat berat dan
Dari Mu’adz bin Jabal, ia berkata : Rasululullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang akhir ucapannya itu laa ilaaha illallah, maka dia masuk surge” (HR. Abu Dawud juz 3, hal. 190) , shahih.
Dari Abu Sa’id dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Talqinkanlah orang-orang yang akan mati diantara kalian dengan kalimat laa ilaaha illallaah.” (HR. Jamaah kecuali Bukhari, dalam Nailul Authar juz 4, hal. 22), shahih.
Dari Abu Hurairah ia berkata : Rasulullah SAW bersabda,”Talqinkanlah orang-orang yang akan mati diantara kalian dengan kalimat “laa ilaha illallaah”, karena barangsiapa yang akhir ucapannya laa ilaha illallaah ketika akan mati, ia masuk surge, satu hari itu (lebih bermanfaat) daripada sepanjang hidupnya, meskipun sebelumnya ia telah melakukan perbuatan apa saja. (HR. Ibnu Hibban juz 4, hal. 3), shahih.
Dari hadits diatas sudah jelas bahwa Islam menuntunkan kita untuk mentalqinkan orang-orang sakit yang sudah mendekati ajal. Lalu bagaimana dengan membaca Yaa siin saat menjenguk orang sakit, bukannya mentalqinkan?
Dari Mu’qil bin Yasar ia berkata : Nabi SAW bersabda, “Bacakanlah Yaasiin untuk orang-orang yang akan mati di antara kalian.” (HR. Abu Dawud juz 3, hal. 191)
Keterangan : hadits tersebut DHA’IF , karena di dalam sanadnya terdapat Abu ‘Utsman dari bapaknya, mereka itu majhul.
Hadits yang dha’if tidak dapat dijadikan dasar dalam beramal. Sekian semoga bermanfaat.
Dari Mu’adz bin Jabal, ia berkata : Rasululullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang akhir ucapannya itu laa ilaaha illallah, maka dia masuk surge” (HR. Abu Dawud juz 3, hal. 190) , shahih.
Dari Abu Sa’id dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Talqinkanlah orang-orang yang akan mati diantara kalian dengan kalimat laa ilaaha illallaah.” (HR. Jamaah kecuali Bukhari, dalam Nailul Authar juz 4, hal. 22), shahih.
Dari Abu Hurairah ia berkata : Rasulullah SAW bersabda,”Talqinkanlah orang-orang yang akan mati diantara kalian dengan kalimat “laa ilaha illallaah”, karena barangsiapa yang akhir ucapannya laa ilaha illallaah ketika akan mati, ia masuk surge, satu hari itu (lebih bermanfaat) daripada sepanjang hidupnya, meskipun sebelumnya ia telah melakukan perbuatan apa saja. (HR. Ibnu Hibban juz 4, hal. 3), shahih.
Dari hadits diatas sudah jelas bahwa Islam menuntunkan kita untuk mentalqinkan orang-orang sakit yang sudah mendekati ajal. Lalu bagaimana dengan membaca Yaa siin saat menjenguk orang sakit, bukannya mentalqinkan?
Dari Mu’qil bin Yasar ia berkata : Nabi SAW bersabda, “Bacakanlah Yaasiin untuk orang-orang yang akan mati di antara kalian.” (HR. Abu Dawud juz 3, hal. 191)
Keterangan : hadits tersebut DHA’IF , karena di dalam sanadnya terdapat Abu ‘Utsman dari bapaknya, mereka itu majhul.
Hadits yang dha’if tidak dapat dijadikan dasar dalam beramal. Sekian semoga bermanfaat.
Jumat, 06 Maret 2009
Siapa yang wajib sholat Jumat?
Bismillahirrahmanirrahiim
Hadits Nabi SAW,
Dari Thariq bin Syihab, dari Abu Musa, dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Sholat Jumat adalah wajib atas setiap orang Islam dengan berjamaah, kecuali empat golongan : hamba sahaya, wanita, anak-anak dan orang yang sakit.” (HR. Hakim, dalam Al-Mustadrak juz 1, hal. 425. Ini hadits shahih atas syarat Bukhari Muslim )
Dari hadits diatas bisa dipahami bahwa :
1. Sholat Jumat wajib atas setiap muslim dengan berjamaah.
2. Empat golongan yang tidak diwajibkan untuk berjamaah, hammba sahaya, wanita, anak-anak dan orang yang sakit.
Bagaimana dengan hadits yang menerangkan bahwa wanita tidak wajib sholat Jumat?
Dari Tamim Ad-Daariy, dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Sholat Jumat itu wajib, kecuali bagi wanita, anak-anak, orang sakit, hamba sahaya,, atau musafir.” (HR. Thabrani, dalam Al-Mu’jamul Kabir juz 2, hal 51, dhaif, karena dalam sanadnya ada Al-Hakam bin Amr, ia tertuduh dusta, dan Dhirash bin Amr Al-Multiy, ia matruk )
Seperti yang kita tahu, hadits dhaif tidak bisa dijadikan dasar dalam beragama.
Hadits Nabi SAW,
Dari Thariq bin Syihab, dari Abu Musa, dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Sholat Jumat adalah wajib atas setiap orang Islam dengan berjamaah, kecuali empat golongan : hamba sahaya, wanita, anak-anak dan orang yang sakit.” (HR. Hakim, dalam Al-Mustadrak juz 1, hal. 425. Ini hadits shahih atas syarat Bukhari Muslim )
Dari hadits diatas bisa dipahami bahwa :
1. Sholat Jumat wajib atas setiap muslim dengan berjamaah.
2. Empat golongan yang tidak diwajibkan untuk berjamaah, hammba sahaya, wanita, anak-anak dan orang yang sakit.
Bagaimana dengan hadits yang menerangkan bahwa wanita tidak wajib sholat Jumat?
Dari Tamim Ad-Daariy, dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Sholat Jumat itu wajib, kecuali bagi wanita, anak-anak, orang sakit, hamba sahaya,, atau musafir.” (HR. Thabrani, dalam Al-Mu’jamul Kabir juz 2, hal 51, dhaif, karena dalam sanadnya ada Al-Hakam bin Amr, ia tertuduh dusta, dan Dhirash bin Amr Al-Multiy, ia matruk )
Seperti yang kita tahu, hadits dhaif tidak bisa dijadikan dasar dalam beragama.
Senin, 02 Maret 2009
Ancaman bagi yang meninggalkan sholat Jumat
Hadits Nabi SAW:
Dari Abdullah bin Umar dan Abu Hurairah, bahwa keduanya mendengar Rasulullah SAW bersabda di atas kayu mimbar beliau, “Sungguh kaum-kaum itu mau menghentikan dari meninggalkan Jumat atau (kalau nekad) Allah pasti akan menutup hati mereka, kemudian mereka menjadi orang-orang yang lalai.” (HR. Muslim juz 2, hal. 591)
Dari Abdullah bin Abu Qatadah, dari Jabir bin Abdullah, bahwasanya Rasululllah SAW bersabda “Barangsiapa yang meninggalkan Jumat tiga kali bukan karena berhalangan, maka Allah akan menutup hatinya.” (HR. Hakim dalam Al-Mustadrak juz 1, hal. 430)
Dari Abul Ja’diy Ad-Dhamriy, ia adalah seorang shahabat, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang meninggalkan Jumat tiga kali karena meremehkannya, maka Allah akan menutup hatinya.” (HR. Hakim dalam Al-Mustadrak juz 1, hal. 415)
Kalau ini sampai terjadi kepada kita, apa lagi yang bisa kita harapkan? Mau kemana kita kalau Allah sudah menutup hati kita.
Dari Abdullah bin Umar dan Abu Hurairah, bahwa keduanya mendengar Rasulullah SAW bersabda di atas kayu mimbar beliau, “Sungguh kaum-kaum itu mau menghentikan dari meninggalkan Jumat atau (kalau nekad) Allah pasti akan menutup hati mereka, kemudian mereka menjadi orang-orang yang lalai.” (HR. Muslim juz 2, hal. 591)
Dari Abdullah bin Abu Qatadah, dari Jabir bin Abdullah, bahwasanya Rasululllah SAW bersabda “Barangsiapa yang meninggalkan Jumat tiga kali bukan karena berhalangan, maka Allah akan menutup hatinya.” (HR. Hakim dalam Al-Mustadrak juz 1, hal. 430)
Dari Abul Ja’diy Ad-Dhamriy, ia adalah seorang shahabat, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang meninggalkan Jumat tiga kali karena meremehkannya, maka Allah akan menutup hatinya.” (HR. Hakim dalam Al-Mustadrak juz 1, hal. 415)
Kalau ini sampai terjadi kepada kita, apa lagi yang bisa kita harapkan? Mau kemana kita kalau Allah sudah menutup hati kita.
Cinta dan benci Karena Allah
Setiap orang pasti memiliki rasa cinta dan benci, tetapi alasan mereka mereka bisa bermacam-macam.
Karena apa kita mencintai sesuatu? Karena apa kita membenci sesuatu? Tanyakan pada hati kita sendiri apakah alasan kita mencintai dan membenci sesuatu tersebut sudah benar.
Hadits Nabi SAW :
Dari Anas RA dari Nabi SAW, beliau bersabda,”Ada tiga perkara barangsiapa yang tiga perkara itu ada padanya berarti ia mendapatkan manisnya iman, yaitu barangsiapa yang Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya daripada selain keduanya, dan barangsiapa yang mencintai seseorang yang mana dia tidak mencintainya kecuali karena Allah, dan barangsiapa yang benci untuk kembali kepada kekafiran setelah Allah menyelamatkannya dari api kekafiran itu sebagaimana dia tidak suka (takut) dilemparkan ke dalam api.” (HR. Bukhari juz 1, hal. 11)
Dari Anas RA dari Nabi SAW,beliau bersabda,”Tidak beriman seseorang diantara kalian sehingga ia mencintai saudaranya (sebagaimana) apa yang ia cintai untuk dirinya.” (HR. Bukhari juz 1, hal. 9)
Dari Abu Umamah, dari Rasulullah SAW, beliau bersabda,”Barangsiapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah dan mencegah karena Allah, berarti dia telah menyempurnakan iman.” (HR. Abu Dawud juz 4, hal. 220)
Semoga hadits-hadits ini bisa mewakili, karena sebenarnya masih banyak hadits-hadits yang lain.
Sekali lagi, Islam menuntunkan seperti ini, dan sebagai muslim kita harus yakin inilah kebenaran.
Karena apa kita mencintai sesuatu? Karena apa kita membenci sesuatu? Tanyakan pada hati kita sendiri apakah alasan kita mencintai dan membenci sesuatu tersebut sudah benar.
Hadits Nabi SAW :
Dari Anas RA dari Nabi SAW, beliau bersabda,”Ada tiga perkara barangsiapa yang tiga perkara itu ada padanya berarti ia mendapatkan manisnya iman, yaitu barangsiapa yang Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya daripada selain keduanya, dan barangsiapa yang mencintai seseorang yang mana dia tidak mencintainya kecuali karena Allah, dan barangsiapa yang benci untuk kembali kepada kekafiran setelah Allah menyelamatkannya dari api kekafiran itu sebagaimana dia tidak suka (takut) dilemparkan ke dalam api.” (HR. Bukhari juz 1, hal. 11)
Dari Anas RA dari Nabi SAW,beliau bersabda,”Tidak beriman seseorang diantara kalian sehingga ia mencintai saudaranya (sebagaimana) apa yang ia cintai untuk dirinya.” (HR. Bukhari juz 1, hal. 9)
Dari Abu Umamah, dari Rasulullah SAW, beliau bersabda,”Barangsiapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah dan mencegah karena Allah, berarti dia telah menyempurnakan iman.” (HR. Abu Dawud juz 4, hal. 220)
Semoga hadits-hadits ini bisa mewakili, karena sebenarnya masih banyak hadits-hadits yang lain.
Sekali lagi, Islam menuntunkan seperti ini, dan sebagai muslim kita harus yakin inilah kebenaran.
Senin, 23 Februari 2009
cegah kemungkaran !!
Apa yang kita lakukan saat kita tahu saudara kita melakukan kesalahan? Bagaimana Islam menuntun kita?
Firman Allah SWT :
Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, merekalah orang-orang yang beruntung, (QS. Ali Imran : 104)
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekirnya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Dan diantara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. (QS. Ali Imran : 110)
Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Dawud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka tidak saling melarang tindakan mungkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu. (QS. Al Maidah : 78-79)
Hadits Nabi SAW
Dari Abu Sa’id, ia berkata : Saya pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa diantara kalian yang melihat kemungkaran, maka hendaklah ia merobahnya dengan tangannya. Jika ia tidak mampu maka ( hendaklah merubah) dengan lesannya. Dan jika ia tidak mampu, maka dengan hatinya. Dan yang demikian itu adalah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim juz 1, hal 69)
Dari Ubaidillah bin Jarir dari bapaknya, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah dalam suatu kaum yang didalamnya dilakukan kema’shiyatan, lalu ada orang-orang yang mampu untuk melawan dan mencegah, tetapi mereka tidak mau merubahnya, melainkan Allah akan meratakan siksa kepada mereka.” (HR. Ibnu Majah juz 2, hal. 1329)
Dari Aisyah, dia berkata : Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Suruhlah kepada yang ma’ruf, dan cegahlah dari kemungkaran sebelum kalian berdoa (kepada Allah ) namun tidak dikabulkan.” (HR. Ibnu Majah juz 2, hal. 1327)
Jadi mulai sekarang tidak ada alasan untuk hanya berdiam diri disaat kemaksiatan merajalela. Minimal dengan hati kita menolaknya, meskipun itu adalah selemah-lemah iman. Lalu untuk menunjukkan kuatnya iman kita- kita bisa menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar dengan berbagai macam cara- tunjukkan kekuatan kita.
Firman Allah SWT :
Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, merekalah orang-orang yang beruntung, (QS. Ali Imran : 104)
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekirnya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Dan diantara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. (QS. Ali Imran : 110)
Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Dawud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka tidak saling melarang tindakan mungkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu. (QS. Al Maidah : 78-79)
Hadits Nabi SAW
Dari Abu Sa’id, ia berkata : Saya pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa diantara kalian yang melihat kemungkaran, maka hendaklah ia merobahnya dengan tangannya. Jika ia tidak mampu maka ( hendaklah merubah) dengan lesannya. Dan jika ia tidak mampu, maka dengan hatinya. Dan yang demikian itu adalah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim juz 1, hal 69)
Dari Ubaidillah bin Jarir dari bapaknya, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah dalam suatu kaum yang didalamnya dilakukan kema’shiyatan, lalu ada orang-orang yang mampu untuk melawan dan mencegah, tetapi mereka tidak mau merubahnya, melainkan Allah akan meratakan siksa kepada mereka.” (HR. Ibnu Majah juz 2, hal. 1329)
Dari Aisyah, dia berkata : Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Suruhlah kepada yang ma’ruf, dan cegahlah dari kemungkaran sebelum kalian berdoa (kepada Allah ) namun tidak dikabulkan.” (HR. Ibnu Majah juz 2, hal. 1327)
Jadi mulai sekarang tidak ada alasan untuk hanya berdiam diri disaat kemaksiatan merajalela. Minimal dengan hati kita menolaknya, meskipun itu adalah selemah-lemah iman. Lalu untuk menunjukkan kuatnya iman kita- kita bisa menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar dengan berbagai macam cara- tunjukkan kekuatan kita.
Langganan:
Postingan (Atom)
.jpg)